• 21 Juli 2024 08:34

LensaUtama

Jendela Cakrawala Indonesia

Demi Tekadnya Menjadi Seorang Pendidik, Dua Penggawa Memajukan Pendidikan Guru di Samarinda

ByAdmin Lensa Utama

Jul 10, 2023
Menjadi Seorang Pendidik

Jakarta – “Pantak paku di papan” menjadi pepatah dari bahasa Melayu Kutai yang tepat bagi para guru yang senantiasa bersikap tegas dan konsisten ketika menghadapi tantangan dalam melakukan kegiatan belajar mengajar bersama para siswa, maupun kualitas dirinya sebagai guru.

Begitu pula dengan kompetensi seorang guru yang harus diasah secara konsisten dengan mengikuti pelatihan agar para murid mendapatkan akses pendidikan yang sama rata.

Demi tekadnya menjadi seorang pendidik, Rachmad Syarif rela merantau ke Samarinda yang jauhnya 12 jam perjalanan dari Berau, kota asalnya. Sehari-hari, Syarif, begitu sapaannya, mengajar sebagai guru bahasa Indonesia di SMPN 4 yang merupakan salah satu sekolah unggulan di kota Samarinda.

Mengajar di sekolah unggulan bukan berarti Syarif tidak menemui tantangan, apalagi berhadapan dengan ratusan remaja yang sedang giat-giatnya menggali potensi diri sesuai minat masing-masing. Keberagaman minat para murid inilah yang membuat Syarif harus mencari jalan tengah agar materi pembelajaran bisa tersampaikan dengan baik tanpa menghalangi cara para siswa berekspresi di sekolah.

 

Menjadi Seorang Pendidik
Demi Tekadnya Menjadi Seorang Pendidik, Dua Penggawa Memajukan Pendidikan Guru di Samarinda (Foto: Dok)

 

Kepindahan Sotinsia Desi dari pusat kota ke sisi utara Samarinda, tepatnya di Lempake, lebih dari sekadar mutasi ke sekolah baru. Ia meninggalkan zona nyaman setelah lebih dari sepuluh tahun mengenyam karier sebagai guru.

“Ternyata EPP ini tidak hanya menawarkan program pelatihan bagi para guru, tetapi juga menyesuaikan dengan kebutuhan kami. Saat pelatihan berlangsung, EPP memang mengakomodasi hal-hal yang kami sampaikan pada saat focus group discussion tersebut” Ujar Desi.

Di SDN 007 Lempake, Samarinda Utara, Desi, panggilan akrabnya, menerima amanah sebagai kepala sekolah untuk terus menghidupkan denyut pendidikan di dalam ruang-ruang kelas yang sangat sederhana di sekolah yang dibangun sejak tahun 1970-an tersebut.

Desi pun menghadapi berbagai tantangan selama menjadi kepala sekolah, mulai dari beradaptasi dengan budaya yang berlaku di sekolah, metode belajar mengajar yang masih berporos pada guru, hingga partisipasi murid di kelas. Oleh karena itu, Desi bertekad untuk menghadirkan solusi pengelolaan sekolah di setiap situasi yang mereka hadapi, terlepas dari kondisi fisik dan lokasi sekolah.

Dari masing-masing tantangan yang mereka hadapi, Syarif dan Desi sama-sama mengemban tanggung jawab besar terhadap kelangsungan pendidikan di sekolah. Lebih jauh lagi, peran mereka diharapkan dapat membantu perbaikan kualitas sektor pendidikan yang menjadi prioritas utama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda, salah satunya melalui pengembangan kompetensi guru.

Maka, berangkat dari tekad kuat untuk menggawangi kelangsungan pendidikan yang lebih baik di Samarinda, Syarif dan Desi tidak hanya aktif di komunitas guru, tetapi juga mengikuti seleksi program Ekosistem Pendidik Profesional (EPP) yang merupakan kolaborasi antara Putera Sampoerna Foundation melalui inisiatif School Development Outreach dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) yang berlangsung sejak tahun 2022.

Para guru peserta EPP diberikan pelatihan mengenai Kurikulum Merdeka dengan metode-metode pembelajaran yang menyenangkan di kelas serta pelatihan lainnya yang menunjang peningkatan profesionalisme para guru.

Sebagai institusi bisnis sosial yang telah berkomitmen untuk membantu meningkatkan pendidikan Indonesia selama lebih dari 20 tahun, PSF-SDO bersama PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) mengupayakan pemerataan akses pendidikan di Samarinda yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Samarinda.

Berangkat dari gagasan bahwa pengembangan kompetensi guru dapat memperluas akses pendidikan dan kemudian mampu meningkatkan kualitas pendidikan di daerahnya, maka program EPP menjadi bentuk inisiatif yang hadir untuk menjawab tantangan terhadap peningkatan kompetensi guru.

Syarif dan Desi menjadi dua dari 30 guru terpilih dari jenjang TK, SD dan SMP dalam program EPP yang mendapatkan pembekalan menyeluruh sebagai persiapan menjadi Fasilitator Kota di Samarinda.

Selain mendapat pemaparan teori dan praktik yang berlangsung selama lima hari terkait metode belajar mengajar, para Fasilitator Kota juga mendapatkan pendampingan penuh oleh PSF-SDO dari awal pelatihan hingga penerapan di sekolah masing-masing selama dua tahun ke depan.

“Saya telah mengikuti banyak pelatihan guru, tetapi baru pelatihan EPP dari PSF inilah saya dan rekan-rekan guru lainnya tidak hanya diberikan pemaparan teoretis, tetapi juga praktik. Materi-materinya juga sangat berkesan bagi saya, seperti cooperative learning yang membantu mereka lebih senang belajar, diferensiasi yang membantu para siswa belajar sesuai minat masing-masing, dan asesmen menyeluruh yang menilai para siswa tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga pembentukan karakter” kata Syarif

“Melalui EPP, kami pun percaya bahwa Samarinda memiliki sumber daya manusia yang memadai untuk memberikan kontribusi pada kualitas pendidikan di daerahnya dan akan terus menyebar luas. Maka PSF-SDO terbuka untuk menjalin kemitraan dengan pihak-pihak yang memiliki kepedulian yang sama terhadap dunia pendidikan agar bersama-sama memperluas pemerataan akses pendidikan melalui berbagai program kolaborasi” jelas Juliana, Head of Program & Development, Putera Sampoerna Foundation – School Development Outreach.

Komentar pembaca