Tottenham Samai Rekor Terburuk, 10 Laga Tanpa Kemenangan di Premier League

lensautama – Kekalahan dari Fulham akhir pekan lalu membuat Tottenham Hotspur menyamai rekor terburuk mereka di era Premier League tanpa kemenangan. Hasil pahit di Craven Cottage memperpanjang puasa tiga poin Spurs menjadi 10 pertandingan beruntun.

Catatan negatif ini terakhir kali terjadi pada periode Januari hingga Maret 1994 saat klub masih ditangani Ossie Ardiles.

Dalam laga derbi London melawan Fulham, Tottenham sebenarnya datang dengan misi menjauh dari zona degradasi. Harapan itu muncul setelah West Ham United kalah dari Liverpool sehari sebelumnya.

Namun tim asuhan Igor Tudor justru tumbang 1-2. Gol dari Harry Wilson dan Alex Iwobi di babak pertama cukup untuk mengunci kemenangan tuan rumah. Spurs kembali gagal menunjukkan konsistensi permainan, terutama dalam menjaga ritme dan pertahanan.

Dari 10 pertandingan liga terakhir, enam di antaranya berakhir dengan kekalahan. Rentetan hasil buruk ini membuat Tottenham Hotspur terjerembab ke peringkat ke-16 klasemen sementara dengan koleksi 29 poin.

Mereka kini hanya terpaut tipis dari Nottingham Forest di bawahnya dan belum sepenuhnya aman dari ancaman degradasi.

Harapan terdekat ada pada duel melawan Nottingham Forest pada 22 Maret mendatang. Namun sebelum itu, Spurs harus melewati dua laga sulit kontra Crystal Palace dan Liverpool.

Jika kembali terpeleset, bukan tidak mungkin Tottenham masuk ke zona merah sebelum menghadapi pesaing langsungnya.

Kondisi Tottenham semakin rumit karena badai cedera belum mereda. Saat menghadapi Fulham, Spurs tak bisa memainkan 10 pemain akibat cedera dan skorsing.

Beberapa nama penting seperti Cristian Romero, Destiny Udogie, James Maddison, Dejan Kulusevski, Lucas Bergvall, dan Mohammed Kudus absen.

Absennya pilar-pilar utama jelas mengganggu stabilitas tim. Meski begitu, cedera tak sepenuhnya bisa dijadikan pembenaran. Klub sebesar Tottenham semestinya tidak berada sedekat ini dengan zona degradasi.

Sejumlah pemain kunci baru diperkirakan pulih pada April. Jika hingga pekan-pekan terakhir Spurs masih terjebak di tiga terbawah, tekanan mental akan semakin berat.

Berbeda dengan Nottingham Forest dan West Ham yang relatif terbiasa berjuang menghindari degradasi, Tottenham sudah lama tak merasakan tekanan sengit di papan bawah. Kini, Spurs benar-benar diuji, bukan hanya secara teknis, tetapi juga mentalitas sebagai klub besar Premier League.

Komentar pembaca