Memperluas Gerakan Pengendalian Tembakau di Indonesia

Advertisements
JakartaFakta pengendalian tembakau di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Data Riskesdas menunjukkan bahwa pada tahun 2018, angka prevalensi perokok pemula (usia 10-18 tahun), telah mencapai angka 9,1 persen.

Ini jauh dari target RPJMN Jokowi-JK yang menargetkan angka tersebut turun menjadi 5,4 persen pada tahun 2019. Alih-alih menurun, justru angka prevalensi perokok pemula meningkat hampir dua kali lipat.

“Indonesia saat ini saja sudah menjadi negara dengan perokok termuda tertinggi di dunia. Hal yang lebih memprihatinkan adalah berdasarkan proyeksi Bappenas, angka prevalensi perokok pemula diperkirakan akan terus meningkat, bahkan menjadi 16 persen pada tahun 2030” Ujar Hafizh Syafa’aturrahman, Ketua Umum PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Hafizh menambahkan, kami menunggu upaya konkrit dari Presiden terpilih untuk mengatasi hal ini, sesuai dengan janji Nawa Cita II yang akan fokus pada penguatan Sumber Daya Manusia,”

Presiden Indonesia terpilih juga diharapkan tidak perlu takut untuk membuat kebijakan yang pro terhadap pengendalian tembakau, mengingat hal tersebut merupakan bentuk perlindungan negara terhadap semua kalangan, tanpa terkecuali.

“Sebuah langkah proteksi negara kepada warga negaranya, termasuk terhadap kelompok rentan seperti anak-anak dan perempuan. Tanggung jawab tersebut harusnya diemban oleh negara, bukan disediakan oleh pihak-pihak lain” Jelas Sudibyo Markus, Koordinator Program Nasional Indonesia Institute for Social Development.

“Saya sangat setuju sekali dengan Gerakan Tribun Tanpa Asap, karena di tribun itu kan, orang mau menonton dengan aman, nyaman dan tiada penyakit” Ujar Andritany Ardhiyasa,

“Kalau kita lihat seperti di Eropa, banyak sekarang anak-anak kecil atau balita-balita itu bisa datang ke stadion, tanpa menghirup asap, baik asap rokok maupun asap flare” Ujarnya.

“Hanya 90 menit, anda tidak memegang batang rokok di stadion tidak hanya milik anda, tapi juga milik orang-orang yang ingin menikmati sepakbola” Tegas Andritany.

Inisiator Gerakan Tribun Tanpa Asap, Ferry Indrasjarief, juga sangat mendukung apabila PSSI membuat regulasi khusus mengenai Tribun Tanpa Asap, di mana semua klub sepakbola di Liga Indonesia diwajibkan untuk memiliki program serupa.

“semua berhak untuk datang ke stadion tanpa merasa terganggu oleh asap, terganggu oleh pemandangan yang tidak enak” kata Ferry, Inisiator Gerakan Tribun Tanpa Asap.

Masyarakat Sipil juga mendorong PSSI untuk mengadopsi kebijakan FIFA yaitu Tobacco Free Policy for FIFA Events. Kebijakan tersebut merupakan bentuk komitmen FIFA untuk menolak segala bentuk kerja sama dengan industri rokok, baik rokok konvensional maupun elektrik.

Komentar pembaca