lensautama – Pembalap Monster Energy Yamaha, Fabio Quartararo, menutup seri MotoGP Indonesia 2025 di Sirkuit Mandalika dengan hasil yang cukup memuaskan. Meski belum naik podium, pembalap berjuluk El Diablo ini berhasil finis di posisi ketujuh setelah menerapkan strategi ban yang berbeda dari mayoritas rider lain, Minggu (5/10/2025).
Sejak sesi kualifikasi, Fabio Quartararo sudah menunjukkan tekad besar untuk tampil kompetitif, meskipun motor Yamaha M1 dikenal memiliki kelemahan di lintasan lurus. Ia mengamankan posisi start ke-8, hanya selisih tipis dari rekan setimnya, Alex Rins, yang mengejutkan dengan menempati baris depan.
Namun, balapan sprint pada Sabtu tidak berjalan mulus. Quartararo terpaksa mengakhiri balapan lebih awal setelah mengalami kecelakaan.
Belajar dari hasil sprint, Quartararo menerapkan strategi berbeda saat balapan utama. Ia memilih ban depan hard (keras) dan ban belakang soft (lunak) kombinasi yang jarang digunakan pembalap lain. Sebagian besar pembalap mengandalkan kombinasi ban depan lunak dan belakang medium.
“Keputusan ini penuh risiko, tetapi saya tidak merasakan kenyamanan dengan opsi lain. Saya satu-satunya yang menggunakan ban depan hard dan salah satu dari sedikit yang memakai soft di belakang. Ternyata itu pilihan yang tepat bagi saya“ ungkap Fabio Quartararo dikutip dari Motorsport.
Balapan berlangsung dalam kondisi ekstrem dengan suhu lintasan mencapai 60 derajat Celsius. Cuaca panas ini membuat banyak tim mengalami kendala, termasuk Ducati yang biasanya dominan. Satu-satunya pengecualian adalah Fermín Aldeguer yang tampil impresif dan keluar sebagai juara.
Meskipun hanya finis di posisi ketujuh, Quartararo tetap merasa puas. Ia mampu menjaga ritme balapan dan finis hanya terpaut sekitar dua detik dari posisi podium yang diamankan oleh Alex Marquez.
“Kami memang kesulitan, tetapi bisa finis dekat podium adalah hasil yang cukup baik” ujar Quartararo, juara dunia MotoGP 2021.
Namun, pembalap asal Prancis itu tidak menutup-nutupi kelemahan Yamaha. Menurutnya, M1 masih kekurangan tenaga, terutama saat duel di trek lurus.
“Saya tidak bisa menyalip siapa pun. Setiap keluar tikungan, lawan-lawan saya melaju lebih cepat dan sulit dikejar. Jelas tenaga motor kami tidak cukup untuk bersaing dalam hal itu” tambahnya.
Rekan setimnya, Alex Rins, sempat tampil impresif dan bahkan berada di posisi kedua pada pertengahan lomba. Namun, strategi ban yang kurang tepat membuat Rins kesulitan menjaga kecepatan di lap-lap akhir, hingga akhirnya finis di posisi ke-10.
“Ketika saya berada di belakangnya, saya tahu dia mengambil risiko besar dengan ban belakang lunak. Pada akhirnya, ketika bannya habis, ia tidak bisa bertahan” jelas Quartararo mengenai performa Rins.
Meski Yamaha belum menemukan solusi untuk kekurangan tenaga mesin, Fabio Quartararo tetap menilai hasil di Mandalika layak diapresiasi. Dengan pendekatan strategi yang berbeda dan pengelolaan ban yang tepat, ia berhasil membawa pulang poin penting dari Indonesia.
“Itu akhir pekan yang aneh, tapi kami tetap bisa tampil cukup baik” tutup Quartararo.
