lensautama – Pembalap MotoGP asal Prancis, Fabio Quartararo, kembali melontarkan kritik tajam kepada timnya, Yamaha, setelah gagal meraih podium dalam seri MotoGP Republik Ceko. Meski memulai balapan dari posisi ketiga, Quartararo hanya mampu finis di posisi keenam, tertinggal 11 detik dari pemenang balapan.
Menurut Fabio Quartararo, penyebab utama kegagalannya bersaing di barisan depan adalah mesin motor Yamaha yang dinilainya sudah ketinggalan zaman. Ia menilai performa motor yang tidak kompetitif menjadi penghambat utama dalam usahanya untuk kembali ke papan atas MotoGP.
“Masalahnya jelas mesin kami kalah dari rival“ ujar Quartararo, seperti dikutip dari ESPN.
Sepanjang musim MotoGP 2025, Fabio Quartararo sebenarnya menunjukkan performa mengesankan di sesi kualifikasi. Ia berhasil merebut pole position di sirkuit Jerez, Le Mans, Silverstone, dan Assen. Namun, keunggulan ini tidak mampu dipertahankan saat balapan berlangsung.
Hingga kini, Quartararo baru sekali naik podium, yaitu saat meraih posisi kedua di GP Spanyol. Hasil ini jauh dari ekspektasi mengingat ia merupakan juara dunia MotoGP 2021.
Di Brno, Quartararo kembali menunjukkan kecepatannya dalam kualifikasi, namun pada saat balapan ia kalah bersaing dengan para pembalap dari Ducati, Aprilia, dan KTM—yang semuanya menggunakan mesin V4.
Sementara itu, Yamaha masih mempertahankan konfigurasi mesin inline-four yang dianggap kurang bertenaga saat bersaing dalam rombongan besar.
“Keluar tikungan kami cukup baik, tapi saat pengereman dan memasuki tikungan, grip kami lemah. Itu sangat merugikan“ keluh Quartararo.
Yamaha diketahui sudah mulai mengembangkan mesin V4 sejak tahun lalu. Namun, hingga saat ini, pengujian masih dilakukan oleh test rider seperti Augusto Fernandez dan Andrea Dovizioso, dengan debut mesin tersebut baru dijadwalkan untuk musim 2026.
Situasi ini membuat Fabio Quartararo semakin frustrasi, terlebih kontraknya telah diperpanjang hingga akhir musim 2026. Ia merasa masa emas dalam kariernya terbuang sia-sia karena minimnya peningkatan performa dari pabrikan asal Jepang tersebut.
“Start dari depan tidak cukup. Saya bisa cepat saat sendiri, tapi kehilangan banyak hal saat di grup: grip, tenaga, aerodinamika. Semuanya turun“ ujar Quartararo.
Meski kecewa, pembalap 25 tahun itu masih berharap akan adanya perbaikan dari Yamaha. Ia menegaskan bahwa tim sedang bekerja keras untuk mempercepat pengembangan motor agar bisa bersaing secara kompetitif di musim-musim mendatang.
Dengan kondisi saat ini, masa depan Fabio Quartararo bersama Yamaha mulai dipertanyakan oleh banyak pihak. Meskipun terikat kontrak hingga 2026, tekanan dari luar dan rasa frustrasi pribadi bisa memengaruhi keputusannya ke depan.
Yamaha kini berada di bawah tekanan besar untuk membuktikan bahwa mereka masih bisa menciptakan motor juara dunia. Jika tidak, bukan tak mungkin Quartararo akan mencari peluang baru dengan tim lain setelah kontraknya berakhir.
