lensautama – Liverpool memulai tahun 2026 dengan catatan yang jauh dari kata ideal. Hingga akhir Januari, The Reds belum meraih satu pun kemenangan di Premier League dan telah kehilangan 11 poin dari lima laga terakhir. Situasi ini membuat posisi Liverpool kian terjepit dalam persaingan papan atas klasemen.
Pasukan Arne Slot kini mulai tertinggal dari para pesaing utama. Inkonsistensi performa membuat Liverpool kesulitan menjaga ritme, bahkan mulai terancam terlempar dari zona Eropa. Jika ada gelar untuk tim paling tidak stabil musim ini, Liverpool layak masuk dalam daftar kandidat teratas.
Sepanjang musim, Liverpool kerap terjebak dalam masalah yang mereka ciptakan sendiri. Pola tersebut kembali terlihat saat The Reds menelan kekalahan dramatis 2-3 dari Bournemouth dalam laga yang berakhir pahit.
Padahal, kepercayaan diri sempat meningkat setelah Liverpool meraih kemenangan meyakinkan 3-0 atas Marseille di ajang Liga Champions pada pertengahan pekan. Namun momentum positif itu sirna hanya dalam hitungan hari. Bermain di bawah hujan deras di Vitality Stadium, Liverpool kembali gagal mengontrol permainan.
Momen krusial datang di menit ke-95 ketika Amine Adli mencetak gol penentu kemenangan Bournemouth. Gol tersebut menjadi pukulan telak bagi Liverpool dan memicu protes keras dari kapten Virgil van Dijk serta rekan-rekannya. Para pemain Liverpool berharap adanya intervensi VAR, namun keputusan wasit tetap mengesahkan gol tersebut.
Dari total 15 poin maksimal dalam lima pertandingan terakhir liga, Liverpool hanya mampu mengamankan empat poin. Dampaknya signifikan, jarak mereka dalam perebutan tiket Liga Champions semakin melebar. Bahkan, posisi Liverpool kini terancam melorot hingga peringkat kedelapan klasemen sementara.
Situasi ini semakin kontras jika dibandingkan dengan musim lalu. Sepanjang 2026, Liverpool belum mencatat satu pun kemenangan liga dan hanya mengoleksi dua poin dari situasi tertinggal.
Angka tersebut sangat jauh dibandingkan musim sebelumnya, saat Liverpool sebagai juara bertahan mampu mengumpulkan 23 poin dari posisi tertinggal, dengan total 29 poin diraih lewat skenario kebangkitan.
Pelatih Liverpool, Arne Slot, menyoroti faktor kelelahan akibat padatnya jadwal sebagai salah satu penyebab utama inkonsistensi timnya.
“Kami satu-satunya tim Liga Champions yang hanya memiliki jeda dua hari setelah laga tandang Eropa, lalu harus menjalani laga tandang lagi melawan salah satu tim paling intens di liga” ujar Slot.
Saat peluit akhir dibunyikan, Slot dan para pemain Liverpool meninggalkan lapangan dengan wajah muram, tubuh basah kuyup oleh hujan. Sebuah pemandangan yang seolah menjadi simbol kondisi Liverpool di awal tahun 2026—penuh tekanan, minim hasil, dan sarat tanda tanya.

