lensautama – Perjalanan Xabi Alonso bersama Real Madrid resmi berakhir lebih cepat dari perkiraan banyak pihak. Serangkaian konflik internal, ketegangan di ruang ganti, serta hasil negatif melawan rival abadi Barcelona menjadi latar belakang keputusan berpisahnya Los Blancos dengan pelatih muda tersebut.
Xabi Alonso datang ke Real Madrid pada musim panas 2025 dengan reputasi mentereng. Keberhasilannya membawa Bayer Leverkusen tampil impresif di Bundesliga membuatnya dipandang sebagai paket lengkap, pelatih muda bertalenta sekaligus legenda klub. Namun, seperti yang kerap terjadi, Real Madrid adalah klub dengan standar sangat tinggi dan toleransi yang rendah terhadap kegagalan.
Menurut laporan The Athletic, sejak awal menangani Real Madrid, Alonso sudah dihadapkan pada dinamika internal yang tidak mudah. Beberapa metode latihan serta pendekatan disiplin ketat yang diterapkannya disebut tidak sepenuhnya diterima oleh pemain. Salah satu kebijakan yang paling menuai resistensi adalah larangan bagi keluarga maupun pasangan pemain untuk memasuki pusat latihan Valdebebas.
Masalah internal tersebut diperparah oleh hubungan yang merenggang antara Alonso dan sejumlah pemain kunci. Strategi permainan yang ia terapkan dinilai tidak berjalan efektif di lapangan, bahkan memicu ketidakpuasan di ruang ganti.
Vinicius Jr disebut menjadi salah satu pemain yang kerap mengekspresikan frustrasi, terutama ketika ditarik keluar saat pertandingan masih krusial.
Di tengah situasi yang semakin sulit, dukungan internal terhadap Alonso di skuad Madrid disebut sangat terbatas. Hanya tiga pemain yang secara terbuka masih memberikan kepercayaan penuh kepada sang pelatih, yakni Thibaut Courtois, Rodrygo, dan Jude Bellingham.
Ketiga pemain tersebut bahkan dikabarkan sempat bertemu dengan jajaran petinggi Madrid usai kekalahan 1-2 dari Manchester City di Santiago Bernabeu pada laga Liga Champions, 11 Desember lalu. Dalam pertemuan itu, Courtois, Rodrygo, dan Bellingham menyampaikan keyakinan bahwa Xabi Alonso masih layak diberi waktu untuk membenahi tim.
Rodrygo sendiri menjadi contoh menarik di era Alonso. Winger asal Brasil itu sempat tersisih di awal masa kepelatihan sang pelatih, namun kemudian kembali dipercaya sebagai starter. Kepercayaan tersebut mampu dijawab Rodrygo dengan performa impresif tanpa memunculkan polemik tambahan di internal Real Madrid.
Xabi Alonso ditunjuk sebagai pelatih Real Madrid untuk menggantikan Carlo Ancelotti, yang memilih menerima tawaran melatih Timnas Brasil. Pada fase awal musim, proyek Alonso terlihat sangat menjanjikan.
Los Blancos mencatatkan 13 kemenangan dari 14 laga pertama di semua kompetisi, termasuk kemenangan penting 2-1 atas Barcelona. Madrid juga sempat memimpin klasemen LaLiga dan tampil meyakinkan di Liga Champions.
Namun, momentum positif tersebut perlahan runtuh. Performa Madrid mengalami penurunan drastis dalam beberapa pekan krusial. Puncaknya terjadi saat Los Blancos kembali takluk dari Barcelona di final Piala Super Spanyol. Kekalahan tersebut menjadi titik balik, dan kurang dari 24 jam kemudian, Xabi Alonso resmi tidak lagi menukangi Madrid.
Pihak klub menegaskan bahwa perpisahan ini merupakan keputusan bersama, bukan pemecatan sepihak. Dalam pernyataan resminya, Real Madrid tetap memberikan penghormatan tinggi kepada sang legenda.
“Xabi Alonso akan selalu mendapat kasih sayang dan kekaguman dari keluarga besar Madrid. Ia adalah legenda klub dan selalu merepresentasikan nilai-nilai kami” tulis pernyataan resmi klub.
Sebagai solusi jangka pendek, Madrid menunjuk Álvaro Arbeloa sebagai pelatih interim. Mantan bek Los Blancos tersebut sebelumnya telah lama menangani tim muda dan Castilla, dan kini dipercaya memimpin tim utama di tengah situasi genting, sembari manajemen menyiapkan langkah strategis untuk masa depan klub.
Perpisahan dengan Xabi Alonso sekali lagi menegaskan bahwa di Real Madrid, hasil dan stabilitas ruang ganti menjadi faktor utama bahkan bagi seorang legenda klub.

