Kemampuan Inovasi Karyawan Menjadi Indikator Sukses Dalam Memajukan Perusahaan

Advertisements
TangerangMenandai perayaan Hari Perempuan Internasional ke-16, Riset Accenture #EqualityDrivesInnovation dilakukan dengan melibatkan 18,000 responden dari 27 negara, termasuk 700 responden Indonesia.

Hasil temuannya menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia telah memiliki kesadaran akan pentingnya inovasi dalam memajukan perusahaan mereka.

Riset Accenture mengungkap bahwa di Indonesia, budaya kesetaraan mampu meningkatkan innovation mindset hingga tiga kali lipat.

“Riset Accenture #EqualityDrivesInnovation menunjukkan bahwa budaya kesetaraan menjadi pendorong utama pola pikir inovatif yang memiliki dampak signifikan bagi kemajuan suatu perusahaan. Dari seluruh faktor yang menjadi fokus riset, budaya selalu menang” Ujar Debby Alishinta selaku Managing Director Women in Accenture Sponsor di Indonesia.

“Indonesia saat ini menduduki urutan ke-85 dalam Indeks Inovasi Dunia . Secara positif, #EqualityDrivesInnovation mengungkap bahwa pentingnya inovasi sudah disadari oleh 95% pemimpin perusahaan, dan 96% karyawan ingin menjadi lebih inovatif. Data kualitatif di Indonesia juga mengungkap bahwa 80% organisasi mendorong dan memungkinkan karyawan menjadi inovatif dalam bekerja sehari-hari” Ujarnya.

Riset ini juga menunjukkan bahwa diversitas atau keberagaman dalam perusahaan secara signifikan berdampak pada innovation mindset. Untuk Indonesia sendiri, riset #EqualityDrivesInnovation sudah menunjukkan bahwa Indonesia sudah merangkul diversitas atau perbedaan budaya dibandingkan negara-negara lainnya.

Riset menemukan bahwa secara global, innovation mindset lebih besar 6x lipat ketika diversitas dikombinasikan dengan budaya kesetaraan, dibandingkan dengan perusahaan lain yang tidak menerapkan kedua faktor tersebut.

Selaras dengan temuan ini, Accenture juga mengemukakan jika setiap negara meningkatkan innovation mindset hingga 10%, produk domestik bruto global dapat meningkat hingga mencapai $8 triliun pada tahun 2028.

Dalam upayanya memperkuat temuan riset ini, Accenture di Indonesia juga menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bersama Femina dan Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) yang menjadi corong bagi upaya kesetaraan gender di Indonesia serta melibatkan sembilan responden level direktur dan sebelas responden dengan level sampai dengan senior manager.

Para peserta FGD mengungkapkan kesimpulan bahwa budaya kesopanan dan keramahan dalam pekerjaan menjadikan Indonesia memilik keunikan tersendiri dalam memandang diversitas, hingga diversitas semakin tahun berganti semakin lebih diterima dibanding negara lain.

“Kesetaraan dalam perusahaan akan memberikan kesempatan lebih banyak bagi perempuan Indonesia untuk menduduki posisi strategis dan membangun situasi kerja yang memberikan keberanian bagi seluruh karyawan untuk berinovasi lebih tanpa takut mencoba dan takut gagal. Ketika budaya setara berkembang, maka pola pikir inovatif turut berkembang” Ujar Petty S. Fatimah selaku Pemimpin Redaksi Femina dan Editorial Director Prana Group.

“IBCWE terbentuk sebagai koalisi dari sejumlah perusahaan, termasuk Accenture, yang berkomitmen untuk mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan dan kesetaraan gender. Kami percaya bahwa bisnis, bersama dengan pemerintah dan masyarakat sipil, memiliki peran penting dalam mengurangi ketimpangan, mengentaskan kemiskinan, dan mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan” Papar Maya Juwita, Executive Director, Indonesia Business Coallition for Women (IBCWE).

Meluncurkan berbagai riset untuk mengeksplor cara meningkatkan kualitas lapangan kerja dan juga kesetaraan gender menjadi salah satu upaya Accenture untuk mencapai tujuannya mencapai kesetaraan gender di lapangan kerja pada tahun 2050.

Accenture percaya bahwa untuk mencapai masa depan dengan lapangan kerja yang setara, maka harus menerapkan tujuan yang tegas, yaitu dengan memiliki lapangan kerja global yang menjunjung kesetaraan gender di tahun 2025.

Tujuan lain adalah untuk meningkatkan presentase wanita yang menjabat sebagai managing director sebesar 25 persen secara global di tahun 2020.

“Penghargaan terhadap budaya kesetaraan serta kesadaran akan pentingnya inovasi menjadi modal yang luar biasa bagi suatu perusahaan untuk bertahan. Jajaran manajemen puncak memiliki posisi strategis dalam menggiring budaya perusahaan dalam menjunjung kesetaraan serta memberdayakan pekerja” tutup Debby Alishinta.

Komentar Pembaca