Zulkifli Hasan: Perlu Redikalisasi Pancasila Agar Tidak Mundur

Advertisements

Lensautama.com – Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, menjadi sorotan adalah potensi konflik horizontal, dimana ketegangan politik di level bawah atau masyarakat kiat menguat.

Perbedaan pandangan politik berada pada level yang menakutkan, pasalnya dari isu tersebut terdapat potensi perpecahan yang sangat rentan. Masyarakat secara tidak sadar tergiring ke dalam arus politik praktis, terlebih rendahnya pendidikan politik masyarakat membuat semakin lebar ceruk konflik.

Selain para elite yang memiliki peran sentral dalam meredam ketegangan tersebut, sangat perlu juga membangkitkan kembali moral Pancasila agar masyarakat paham akan dasar-dasar kebangsaan hingga persatuan dan kesatuan dapat selalu terjaga di tengah kuatnya tekanan tahun politik.

Zulkifli Hasan, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) mengatakan bahwa saat sekarang diperlukan redikalisasi pancasila agar pedoman berbangsa dan bernegara menjadi perilaku sehari-hari.

Masa sudah 73 tahun merdeka masih ribut soal suku, soal agama, menyebar kebencian, itu kuno. Itu kan sudah disepakati 73 tahun lalu, kok sekarang malah terjadi seperti itu, mundur itu. Maka perlu redikalisasi pancasila,” tutur Zulkifli Hasan dalam diskusi yang digelar Aliansi Kebangsaan, di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (7/9).

Selain itu, menurut Zulhas, sapaan akrab pria yang juga menjabat sebagai Ketua MPR RI ini, elit perlu memberikan pengetahuan bela negara, kewajiban berwarganegara, kesadaran berwarganegara, politik-politik kebangsaan, bukan politik adu domba.

“Oleh karena itu saya berterima kasih kepada Aliansi Kebangsaan yang tiada hentinya terus menerus peduli akan nilai-nilai dasar berbangsa dan bernegara,” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Pontjo Sutowo, Ketua Aliansi Kebangsaan, menyampaikan bahwa pemahaman nilai-nilai pancasila perlu ditingkatkan dengan membiasakan memahami pancasila bukan hanya sekedar hafal lima sila yang ada saja.

“Pancasila sebagai filosifi memiliki tingkatan, ada tingkatan dasar, nilai instrumental dan juga nilai fraksis. Tentu nilai dasar tidak banyak berubah, tapi untuk instrumental dan nilai fraksisnya selalu dinamis. Upaya untuk mengupgrade ini harus sistematik, jika tidak nanti terjemahannya bisa kacau,” ujar Pontjo.

Untuk itu, lanjutnya, perlu ada upaya ekstra atau bahkan agak lebih emergency untuk memahami pancasila. Karena ketergantungan kita pada ideologi sangat besar, dan suatu bangsa yang ideologinya kabur pasti akan bermasalah.

Komentar Pembaca